Olah Raga dan Merokok

Olah Raga dan Merokok

Olah Raga dan Merokok

Pada saat merokok, anda akan menghisap asap yang mengandung CO (Carbon Monoxida). Asap tersebut akan masuk ke dalam paru-paru dan berikatan dengan hemoglobin (Hb). Hb ini seharusanya berikatan dengan O(oksigen) yang diperlukan oleh tubuh. Namun, akibat adanya kandungan CO dalam tubuh, maka Hb akan lebih mudah terikat pada CO, sehingga O2tidak akan tersebar sempurna ke dalam tubuh yang dapat mengakibatkan beberapa organ penting dalam tubuh menjadi rusak.

Yang cukup memprihatinkan di masa sekarang, masih banyak orang-orang yang rajin berolahraga namun tetap tidak bisa meninggalkan kebiasaannya untuk merokok. Padahal pada saat berolahraga, tubuh memerlukan pasokan O2 yang sangat banyak. Dalam keadaan normal, Hb akan mengikat O2 dalam tubuh untuk disebarkan ke seluruh tubuh untuk menunjang aktifitas olahraga tersebut. Namun, akibat adanya CO dalam tubuh akan menghalangi penyerapan O2 yang berakibat pada penurunan kemampuan fisik seseorang.

Berkurangnya O2 dalam tubuh akan menyebabkan lamanya masa pemulihan (recovery). Pada olahraga angkat beban, pemulihan otot akan berlangsung lebih lama dari biasanya sehingga pembentukan otot menjadi tidak maksimal. Untuk jenis olahraga yang berdurasi lama seperti lebih dari 60 menit, kekurangan O2 akan sangat berpengaruh. Tubuh anda akan cepat lelah, nafas menjadi lebih pendek, dan pemulihan berlangsung lama. Itulah mengapa banyak atlet olahraga yang tidak merokok karena dapat menurunkan kondisi fisik mereka.

Melihat efek buruk dari merokok, maka tidak dibenarkan untuk tetap merokok selama anda berolahraga ataupun sebelum dan sesudah olahraga. Bahaya lain yang ditimbulkan oleh rokok adalah asap rokok dapat mengganggu kesehatan orang lain di sekitar anda. Tetaplah sehat dan jauhi rokok.

Secara teori, salah satu dampak utama dari merokok terhadap kinerja atlit adalah penurunan fungsi paru-paru. Hal ini mengakibatkan penurunan stamina dan kinerja karena otot kesulitan mendapatkan oksigen yang memadai, sehingga menjadi lebih cepat lelah.

Perokok juga cenderung lebih sering menderita sesak napas dibandingkan mereka yang bukan perokok karena otot-otot dan jantung yang menuntut lebih banyak oksigen dari paru-paru agar kinerjanya dapat tetap baik.

Dampak lain dari merokok pada atlet adalah efeknya pada kesehatan jantung dan peredaran darah. Merokok menyebabkan pembuluh darah mengerut dan memblokirnya dengan plak, sehingga berpotensi meningkatkan tekanan darah. Mengerutnya pembuluh darah jelas akan mengurangi aliran darah ke otot-otot, lalu membatasi jumlah oksigen yang diterima.

Hilangnya aliran darah secara signifikan dapat mengurangi daya tahan otot, sedangkan jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya untuk memompa darah melalui pembuluh darah tersumbat. Ini sekaligus berhubungan dengan masalah paru-paru tadi.

Dampak buruk selanjutnya adalah memperbesar peluang untuk cedera. Ketika otot-otot, jantung, dan otak tidak menerima cukup oksigen, ketajaman mental dan fisik akan menurun drastis.

Hal ini akan memengaruhi atlet dalam membuat keputusan di lapangan. Lebih berbahaya lagi, atlet akan merasa pusing, bahkan pingsan.

Lalu, merokok juga dapat mengurangi kekuatan tulang dan menghambat kemampuan tubuh untuk memperbaiki kulit, ligamen, dan tendon. Hal ini sekaligus dapat menjelaskan bahwa atlet perokok membutuhkan waktu sembuh dari cedera yang lebih lama dari bukan perokok.

Dari mana semua dampak buruk tersebut berasal? Penyebab utamanya adalah nikotin dan karbon monoksida. Selama proses menghisap rokok, perokok menyerap 1-2 miligram nikotin per batang rokok.

Paparan nikotin melalui rokok menyebabkan stimulasi sistem saraf simpatik yang mengarah ke peningkatan pelepasan katekolamin epinefrin dan norepinefrin dari medula adrenal.

Pelepasan ini menyebabkan nikotin merangsang peningkatan denyut jantung dan tekanan darah. Inilah yang disebut sebagai efek hemodinamik, termasuk bentuk efek lainnya, seperti peningkatan kontraktilitas otot jantung, stroke volume, dan cardiac output.

Karbon monoksida (CO) adalah gas yang tidak berbau, berasal dari pembakaran berbagai bahan bakar dan juga hadir dalam asap tembakau.

Hal paling berbahaya dari CO adalah sifatnya yang cepat memasuki darah, serta fakta bahwa afinitas hemoglobin untuk mengikat CO adalah 250 kali lebih besar dari afinitasnya mengikat oksigen.

Yang dimaksud afinitas adalah kecenderungan suatu unsur atau senyawa untuk membentuk ikatan kimia dengan unsur atau senyawa lain. Ini menyebabkan hemoglobin dapat lebih mudah mengikat CO, dan menggusur molekul oksigen. Karbon monoksida yang mengikat hemoglobin membentuk senyawa carboxyhemoglobin. Pembentukan carboxyhemoglobin tentu akan mengurangi kapasitas tubuh untuk membawa oksigen dari darah.

Padahal, oksigen sangat dibutuhkan oleh otak, otot, dan jantung, serta organ-organ tubuh lainnya. Selain itu, CO juga dapat mengikat mioglobin yang menyebabkan penurunan signifikan dalam transportasi oksigen ke mitokondria (organel sel tubuh manusia yang berfungsi untuk kegiatan pernapasan sel guna menghasilkan energi).

Berikut beberapa efek negatif yang terjadi bila merokok setelah olahraga, :

1. Jantung
Merokok setelah olahraga bisa membuat tekanan besar pada jantung. Seperti semua organ dan otot yang sehat, jantung membutuhkan oksigen untuk berfungsi dengan baik. Namun, asap rokok menguras oksigen tubuh, menggantikannya dengan karbon dioksida (CO2) yang berbahaya.
Akibatnya, jantung harus memompa lebih keras untuk memasok tubuh dengan oksigen yang dibutuhkan. Nikotin dalam rokok juga bertindak sebagai stimulan, menyebabkan denyut jantung melampaui tingkat yang sudah diproduksi selama olahraga.

2. Paru-paru
Menghirup asap rokok dapat mempersempit saluran udara di paru-paru dan membuatnya lebih sulit untuk bernapas. Asap rokok memicu pembengkakan kronis dari selaput lendir, secara lebih lanjut dapat membatasi saluran udara.

Kandungan tar yang terdapat pada asap rokok dapat melingkupi paru-paru, membuatnya kurang elastis dan mengorbankan kapasitas oksigen. Tar juga menghalangi detoksifikasi paru-paru.
Setelah olahraga, tubuh membutuhkan oksigen sebanyak mungkin untuk pemulihan, yang membuat Anda mempercepat pernapasan dan jantung berdenyut semakin cepat. Tapi dengan merokok dapat mengganggu segalanya, menyusutkan saluran udara dan mengurangi jumlah oksigen dalam darah.

3. Otak
Merokok setelah olahraga meningkatkan jumlah karbon monoksida (CO) ke dalam aliran darah. Gas tersebut dapat memiliki efek serius pada fungsi otak, merampas oksigen yang dibutuhkan otak untuk mempertahankan fungsi yang tepat.
Kadar karbon monoksida meningkat dapat mengganggu persepsi waktu, mengganggu kinerja visual, mengganggu keterampilan motorik dan bahkan menghambat penalaran kognitif. Setelah olahraga, Anda mungkin akan merasa lelah dan kebingungan, sehingga merokok hanya akan meningkatkan kemungkinan efek yang tidak diinginkan.

4. Kelelahan
Dengan mengurangi kadar oksigen serta memperberat jantung dan paru-paru, merokok setelah olahraga dapat berkontribusi pada kelelahan selama pemulihan.

Kelelahan pasca-olahraga dapat melemahkan, sehingga banyak perokok mungkin merasa sulit untuk melakukan olahraga secara rutin, yang akhirnya mengarah pada makin berkurangnya berolahraga dan penurunan kebugaran secara keseluruhan.

Langkah paling baik untuk menghindari keinginan merokok adalah dengan ber-olah raga, yaitu olah gerak yang aktif untuk melatih kebugaran tubuh kita terlepas apapun bentuk olah raganya.

Latihan kebugaran disertai asupan suplemen yang cocok untuk membakar lemak akan menjaga tubuh anda agar tidak mudah mengalami kegemukan dan membentuk tubuh yang ideal serta menjaga vitalitas bagi tubuh anda secara prima (klik duniabugar.com atau WA / SMS 081 212 212 445) Berbagai Suplemen yang anda butuhkan tersedia disitu..

Semoga bermanfaat…..

Apa pendapatmu?

comments

Galeri Bugar