M e n d e n g k u r

M e n d e n g k u r

Hati-Hati Bila Dalam Tidur Anda Mendengkur

Mendengkur adalah suara yang ditimbulkan saat tidur karena adanya getaran jaringan pada saluran udara bagian atas, Seiring bertambahnya usia, timbulnya dengkuran saat tidur akan makin meningkat hingga hampir 50% manusia di atas 60 tahun mengalami hal tersebut. Umumnya, dengkuran lebih banyak terjadi pada saat menghirup napas (inspirasi).

Timbulnya dengkuran merupakan salah satu gejala sindrom obstruktif apnea saat tidur. Pasien yang menderita sindrom tersebut akan mendengkur dengan keras terus-menerus karena mengalami henti napas saat tidur akibat jalan napas yang tersumbat. Meskipun demikian, sebagian penderita obstruktif apnea ada pula yang tidak mengalami dengkuran karena saluran udara mereka tidak beresonansi. Hal ini terutama terjadi pada pasien yang telah melakukan prosedur bedah saluran udara bagian atas untuk memperketat jaringan lunak didaerah tersebut. Selain kecurigaan adanya obstruktif apnea, orang yang mendengkur memiliki risiko lebih besar untuk terkena penyakit pembuluh darah.

Mendengkur bukanlah gejala normal. Terlebih jika muncul tiba-tiba dan berlangsung terus-menerus. Sebagian kasus perlu diwaspadai karena dapat menjadi petunjuk kemungkinan adanya masalah kesehatan di belakang gejala mendengkurnya. Apa sajakah penyebabnya?

Mari kita membicarakannya di bawah ini.

Seiring bertambahnya usia, setengah dari kaum lelaki mendengkur. Satu dari tiga wanita juga mendengkur ketika tidur begitu pula dengan orang yang berbadan gemuk. Sesekali saja orang mendengkur selagi flu, habis minum alkohol atau minum obat tertentu. Yang pasti, mendengkur bukan sesuatu yang wajar.

Aliran napas terhalang

Mendengkur terjadi karena masuknya aliran udara pernapasan ke paru-paru terhalang. Halangan bisa berada di rongga hidung, rongga mulut atau kerongkongan. Halangan tersebut membuat terjadinya penyempitan aliran udara pernapasan yang menetap atau hanya sementara.
Penyempitan oleh adanya polip hidung, amandel atau melemahnya otot pangkal lidah, dapat berlangsung terus selama penyebabnya masih belum dikoreksi. Sedangkan dinding rongga hidung yang membengkak karena alergi atau menyempitnya pipa udara karena asma, hanya berlangsung sementara waktu.

Bila pernapasan melalui hidung terganggu, orang akan bernapas lewat mulut. Pernapasan mulut berpotensi memunculkan suara dengkur. Begitu juga kalau anak lidah (uvula) menjadi lemah dan atap mulut bagian belakang (soft palate) ototnya kendur, udara pernapasan tak lancar mengalir, sering dialami oleh usia lanjut. Udara pernapasan yang mengalami turbulensi akan menggetarkan jaringan lunak yang dilaluinya, lalu menimbulkan suara dengkur.

Posisi tidur terlentang pada mereka yang berpotensi mendengkur memperkuat munculnya dengkuran. Pada posisi demikian pangkal lidah merebah ke bawah dan anak lidah serta langit-langit rongga mulut lebih turun sehingga memudahkan terjadinya dengkuran.
Penyakit di balik mendengkur

Mendengkur yang muncul tiba-tiba dan berlangsung terus-menerus perlu diwaspadai. Awal stroke bisa melemahkan otot lidah, sehingga hanya menunjukkan gejala mendengkur. Yang sama bila terjadi serangan jantung, dan penyakit jantung umumnya.
Kasus henti napas sejenak (apnea) seyogianya tidak disepelekan. Kejadian apnea akibat sumbatan jalan napas (OSA, obstructive sleep apnea) perlu mendapat perhatian lebih. Waspada bila mendengkur hebat diselingi oleh henti napas sejenak.

Hal yang perlu diwaspadai adalah ketika napas terhenti saat tidur walau sejenak akan mengurangi pasokan oksigen ke jantung, selain ke otak. Amati adakah faktor risiko terserang jantung koroner, dan atau stroke. Pastikan dengan melakukan scanning jantung kalau risiko itu tak ada. Kasus silent MCI dan silent stroke nyaris tak menunjukkan gejala awal akan kemungkinan bakal munculnya kedua serangan yang bisa mematikan itu.

Orang diabetik berat cenderung mengalami serangan jantung yang silent, tak tahu kalau sudah berkali-kali jantungnya “menjerit” saat angina pectoris datang. Apabila serangan nyeri dada berulang ada baiknya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut pada otot jantung sebelum dilakukan koreksi dengan cincin stent atau harus menjalani operasi bypass jantung. Pada kasus silent stroke, biasanya dari foto scan otak menunjukkan ada bagian otak yang sudah mengalami sumbatan, namun belum bergejala. Perlu diwaspadai, sumbatan total dapat terjadi tiba-tiba saat stroke menyerang.
Jangan anggap sepele kebiasaan mendengkur atau ngorok. sering mendengkur merupakan salah satu faktor risiko sakit jantung. “Mengorok itu ada penyumbatan aliran pernapasan. Kalau ada penyumbatan saluran angin, akan terjadi stres pada jantung,”

Sering mendengkur akan memperberat kerja jantung. Akibatnya bisa fatal, yaitu kematian mendadak. Hal ini bisa terjadi jika mendengkur dengan henti napas saat tidur atau obstructive sleep apnea (OSA). Henti napas menyebabkan tubuh kekurangan oksigen, termasuk bagian jantung.
Meski tidak mengalami keluhan sakit jantung, sebaiknya periksa kesehatan jantung jika sering mendengkur. Mendengkur bukan masalah kecil. Anda harus tahu penyebab terjadinya mendengkur saat tidur. Anda bisa pergi ke dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) untuk mengetahui penyebab mendengkur. Mengatasi dengkuran sama saja dengan mengurangi risiko sakit jantung.

Selain mendengkur, faktor risiko penyakit jantung lainnya, yaitu, merokok, tekanan darah tinggi, obesitas, konsumsi makanan tinggi lemak, dan stres. Selain itu, faktor genetik juga berperan meningkatkan risiko sakit jantung.

“Siapa pun bisa terkena masalah pada jantung, usia muda dan tua. Jadi kurangi faktor risikonya dengan gaya hidup sehat dan rutin cek kesehatan karena gejalanya sering tidak muncul,” Konsultasikan dengan dokter anda..

Semoga bermanfaat…..
.

Apa pendapatmu?

comments

Galeri Bugar